Sekolah!
Entah sejak kapan aku mulai bertanya-tanya tentang jati diriku yang sebenarnya. Mungkin ketika memasuki masa pubertas, ketika memasuki masa SMP, pandanganku tentang kehidupan sosial cukup banyak perubahan.
Aku sebelumnya bersekolah di sebuah SD kecil di desa dekat rumah. Sejak kelas 1 hingga hingga kelas 6, teman-teman kelasku tidak banyak yang berubah karena kami naik ke jenjang kelas bersama-sama. Mungkin ada kalanya bertambah satu siswa baru, entah siswa pindahan atau kakak kelas yang belum berhasil naik tingkat. Oleh sebab itu tidak banyak perubahan yang terjadi di masa-masa SD.
Berbeda rasanya ketika aku harus berpisah dengan beberapa kawan SD, dan memulai kehidupan baru di SMP dengan jumlah siswa satu angkatan 8x lebih banyak dari saat masih SD. Ketika memasuki SMP, aku bertemu dengan banyak kawan-kawan baru, juga sebagian dari kawan-kawan lama.
Saat itulah pandanganku mulai terbuka terkait hubungan bersosialisasi. Bertemu kawan-kawan baru membuka banyak pengalaman dan pelajaran tentang bagaimana mengendalikan diri menghadapi bermacam-macam tipe manusia.
Cukup menarik. Ternyata didunia ini ada anak-anak yang memang jenius, ada anak-anak yang memang pintar menarik perhatian, di lain sisi ada juga anak-anak bandel, bahkan aku sempat menilai ada anak-anak yang mencari pertemanan untuk mendapat perlindungan. Lucu, bahkan di usia dini ada manusia yang memiliki insting bertahan seperti itu.
Saat itu aku belum menyadari posisiku diantara mereka, hanya mengikuti aliran arus, berkawan dengan hampir semua anak, bermain dan berkumpul dengan siapa saja. Sangat menyenangkan, bisa ku bilang kelas pertama ku di SMP meninggalkan kesan terbaik dibanding kelas-kelas ku berikutnya.
Diantara sekian banyak teman-teman dikelas itu, ada dua orang yang menarik perhatianku dan mungkin hingga kini masih jadi ikon yang banyak menginspirasi ku. Dua orang itu si Populer dan si Jenius. Terutama si Populer yang ku rasa memiliki kepribadian unik dan sangat berbanding terbalik dengan ku saat itu.
Seperti yang kalian tebak, si Populer tentunya seorang ekstrovert yang menyenangkan, sangat mudah sekali bergaul dan memiliki banyak teman. Kadang aku berharap bisa menjadi dirinya yang bisa menjadi magnet diantara banyak manusia lainnya. Ah... Mimpi... Itu hal yang berbalik dengan sifat introvert secara alami. Kisah si Populer, mungkin akan ku ceritakan di artikel terpisah dan tentang apa yang bisa ku pelajari darinya.
Saat itu, aku belum mengenali apakah aku seorang introvert atau ekstrovert. Bahkan aku belum mengenal kedua istilah itu. Mungkin kisah berikutnya bisa menjelaskan bagaimana aku mengenali diri dan mendeklarasikan diri sebagai INTROVERT.
Aku sebelumnya bersekolah di sebuah SD kecil di desa dekat rumah. Sejak kelas 1 hingga hingga kelas 6, teman-teman kelasku tidak banyak yang berubah karena kami naik ke jenjang kelas bersama-sama. Mungkin ada kalanya bertambah satu siswa baru, entah siswa pindahan atau kakak kelas yang belum berhasil naik tingkat. Oleh sebab itu tidak banyak perubahan yang terjadi di masa-masa SD.
Berbeda rasanya ketika aku harus berpisah dengan beberapa kawan SD, dan memulai kehidupan baru di SMP dengan jumlah siswa satu angkatan 8x lebih banyak dari saat masih SD. Ketika memasuki SMP, aku bertemu dengan banyak kawan-kawan baru, juga sebagian dari kawan-kawan lama.
Saat itulah pandanganku mulai terbuka terkait hubungan bersosialisasi. Bertemu kawan-kawan baru membuka banyak pengalaman dan pelajaran tentang bagaimana mengendalikan diri menghadapi bermacam-macam tipe manusia.
Cukup menarik. Ternyata didunia ini ada anak-anak yang memang jenius, ada anak-anak yang memang pintar menarik perhatian, di lain sisi ada juga anak-anak bandel, bahkan aku sempat menilai ada anak-anak yang mencari pertemanan untuk mendapat perlindungan. Lucu, bahkan di usia dini ada manusia yang memiliki insting bertahan seperti itu.
Saat itu aku belum menyadari posisiku diantara mereka, hanya mengikuti aliran arus, berkawan dengan hampir semua anak, bermain dan berkumpul dengan siapa saja. Sangat menyenangkan, bisa ku bilang kelas pertama ku di SMP meninggalkan kesan terbaik dibanding kelas-kelas ku berikutnya.
Diantara sekian banyak teman-teman dikelas itu, ada dua orang yang menarik perhatianku dan mungkin hingga kini masih jadi ikon yang banyak menginspirasi ku. Dua orang itu si Populer dan si Jenius. Terutama si Populer yang ku rasa memiliki kepribadian unik dan sangat berbanding terbalik dengan ku saat itu.
Seperti yang kalian tebak, si Populer tentunya seorang ekstrovert yang menyenangkan, sangat mudah sekali bergaul dan memiliki banyak teman. Kadang aku berharap bisa menjadi dirinya yang bisa menjadi magnet diantara banyak manusia lainnya. Ah... Mimpi... Itu hal yang berbalik dengan sifat introvert secara alami. Kisah si Populer, mungkin akan ku ceritakan di artikel terpisah dan tentang apa yang bisa ku pelajari darinya.
Saat itu, aku belum mengenali apakah aku seorang introvert atau ekstrovert. Bahkan aku belum mengenal kedua istilah itu. Mungkin kisah berikutnya bisa menjelaskan bagaimana aku mengenali diri dan mendeklarasikan diri sebagai INTROVERT.
Komentar
Posting Komentar